MADIUN – Wali Kota Madiun Maidi kembali menggelar konferensi pers terkait perkembangan kasus Covid-19 di Kota Pendekar, Kamis (21/1). Konferensi pers mengemuka setelah muncul 53 kasus konfirmasi dalam sehari pada, Rabu (20/1) kemarin. Orang nomor satu di Kota Madiun itu berharap masyarakat semakin disiplin protokol kesehatan mengingat banyaknya kasus konfirmasi belakangan ini.
‘’Beberapa waktu lalu, kita melakukan tracing massal, termasuk pasar dan mall. Dari itu 30 persen reaktif. Yang reaktif ini kita lakukan swab. Beberapa di antaranya positif. Tak heran, kalau beberapa hari belakangan ini jumlah kasus konfirmasi kita meningkat,’’ kata wali kota.
Bahkan, Rabu (20/1) kemarin penambahan kasus mencapai 53 orang. Beberapa hari sebelumnya penambahan selalu di atas 20 kasus dalam sehari. Tak heran, ruang isolasi penuh. Wali kota menyebut Pemerintah Kota Madiun terus berupaya menyiapkan ruang isolasi tambahan. Salah satunya dengan menggandeng PT INKA terkait dengan kereta medis daruratnya.
‘’Tetapi upaya yang kita lakukan ini akan tak maksimal kalau masyarakat masih acuh. Masyarakat harus ikut bertanggung jawab, paling tidak bertanggung jawab menjaga diri dan keluarganya agar tidak tertular,’’ imbuhnya.
Sikap masyarakat yang kurang berdisiplin dalam menerapkan protokol kesehatan tersebut bisa berdampak banyak. Ketidakdisiplinan bisa memicu penambahan kasus Covid-19. Sebaliknya, banyak tenaga medis dan kesehatan yang juga terpapar dan harus isolasi. Data yang diterimanya, terdapat 2.400 lebih dokter dan perawat di Jawa Timur yang terpapar Covid-19. Puluhan lainnya telah meninggal dunia. Artinya, jumlah tenaga medis dan tenaga kesehatan berkurang karena isolasi mandiri. Sebaliknya, kasus semakin bertambah.
‘’Kalau kasus semakin banyak, dokter dan perawat juga semakin konsen menangani pasien Covid-19. Saya khawatir, pasien non Covid-19 yang juga membutuhkan penanganan dokter malah tidak tertangani dengan maksimal. Kan kasihan,’’ jelasnya.
Karenanya, wali kota mengajak masyarakat untuk patuh dan disiplin protokol kesehatan serta mengikuti anjuran pemerintah. Bukan malah seenaknya. Aturan dan anjuran, kata wali kota, dibuat tentu sudah melalui kajian. Wali kota mencontohkan pemadaman wifi dan lampu penerangan jalan di jam tertentu. Lokasi layanan wifi yang biasa 24 jam penuh malah dijadikan tempat berkerumun. Karenanya, wali kota mematikan layanan wifi mulai pukul 21.00.
Begitu juga dengan lampu penerangan jalan. Wali kota berharap masyarakat sudah tidak keluyuran lagi kalau lampu dipadamkam. Sebab, masyarakat sering kali kembali berkerumun sesaat sudah diperingatkan petugas. Wali kota berharap masyarakat tidak berkerumun pada kondisi sekarang ini. Masyarakat bisa segera pulang dan istirahat.
‘’Vaksin belum sampai di sini. Artinya, Covid-19 belum ada obatnya. Karena belum ada obatnya, imun harus kuat. Karenanya, istirahat juga harus cukup. Jangan keluyuran tidak jelas seperti itu. Makanya pemerintah tegas agar masyarakat terlindungi,’’ pungkasnya. (dhevit/agi/diskominfo)