MADIUN – Berbagai usulan juga mengemuka saat Musyawarah Perencanaan Pembangunan di Kelurahan Taman, Rabu (13/1) sore. Setidaknya, terdapat puluhan usulan prioritas pembangunan fisik maupun non fisik. Wali Kota Madiun Maidi yang hadir dalam kegiatan menyebut setiap usulan prioritas tersebut harus terealisasi.
‘’Musrenbang kelurahan ini sudah diawali dengan pra musrenbang yang dihadiri ketua RT. Artinya, ini sudah melalui penyaringan dari usulan yang lain. Yang skala prioritas seperti ini harus didahulukan. Selain ini, tolong yang sudah masuk di 2021 tapi butuh penyempurnaan, dimasukkan sekalian dalam usulan Musrenbang ini biar bisa langsung dilanjutkan,’’ kata wali kota.
Berbagai usulan fisik pembangunan tahun anggaran 2022 di Kelurahan Taman di antaranya, normalisasi atau pengerukan sungai, pavingisasi, rumah tidak layak huni, jambanisasi, penerangan jalan umum, pembangunan bangunan pelengkap jalan, pemasangan rambu jalan (cermin tikungan), hibah peralatan dan perlengkapan (pemasangan wifi, bantuan bola dan net voly), dan pemeliharaan makam serta bantuan perlengkapan tempat ibadah.
Selain itu juga mengemuka usulan bantuan pangan non tunai daerah, pelatihan ketenagakerjaan, bantuan khusus siswa miskin, bantuan bahan pertanian dan penghijauan, bansos peralatan dan modal usaha, bansos lansia, balita, dan ibu hamil, hingga bantuan biaya operasional.
‘’Sebelum Musrenbang kecamatan tanggal 27, titik-titik lokasi pembangunan fisik ini kita tinjau sambil bersepeda bersama. OPD terkait harus ikut biar tahu,’’ tegasnya.
Wali Kota juga menyampaikan terkait kondisi Covid-19 saat ini. Salah satunya, terkait Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Pemberlakuan itu lantaran Kota Madiun memenuhi empat kriteria. Yakni, hasil tracing massal banyak yang reaktif, jumlah kematian karena Covid-19 meningkat, kapasitas ruang isolasi rumah sakit lebih dari 70 persen, dan tingkat kesembuhan lama. Karenanya, wali kota berharap masyarakat untuk displin mematuhi aturan dan anjuran pemerintah.
‘’Saya tidak ingin kecolongan seperti kota besar lain. Makanya pasar tradisional kita rapid massal. Dari sekitar 3 ribu yang dirapid 626 di antaranya reaktif. Pasar modern juga kita rapid dan dari sekitar 700 ada sekitar 100 yang reaktif. Kalau tidak kita deteksi dini seperti ini, pertambahan Covid-19 bisa lebih cepat di kota kita,’’ terangnya. (lucky/agi/diskominfo)