MADIUN – Penyaluran bantuan kepada pemilik warung di Kota Madiun akhirnya tuntas untuk sementara. Sebanyak, 600 pemilik warung yang mendapat bantuan sudah terselesaikan. Gelombang terakhir pemberian bantuan diberikan Wali Kota Madiun Maidi di Rumah Dinas Wali Kota, Kamis (10/12). Bantuan memang diberikan secara bertahap dan diberikan di tiga hari berbeda. Hal itu dilakukan untuk menghindari kerumunan di masa pandemi Covid-19. 
 
‘’Berkegiatan boleh tetapi harus menegakkan protokol kesehatan. Sengaja kita bagi dalam beberapa sesi agar bisa menjaga jarak,’’ kata wali kota.
 
Wali kota menyalurkan 100 paket bantuan berupa gula, kopi, teh, dan juga ketela kepada pemilik warung di Kecamatan Manguharjo. 100 paket lainnya sudah disaluran pada sesi pertama yang berlangsung pagi. Sebelumnya, bantuan diberikan kepada pemilik warung di wilayah Kecamatan Taman dan Kecamatan Kartoharjo. Penyaluran bantuan dalam rangka memperingati HUT ke-49 Korpri itu juga terbagi dalam dua sesi. 
 
Wali kota tak hanya memberikan bantuan. Namun, juga menitip pesan protokol kesehatan. Pemilik warung diberikan pemahaman terkait protokol kesehatan dan diharapkan menjadi juru bicara pemerintah terkait hal tersebut. Harapannya, mereka turut mengingatkan masyarakat yang tak patuh protokol kesehatan. Paling tidak, pembelinya sendiri. 
 
‘’Pemilik warung ini dekat dengan masyarakat. Setiap hari melayani. Mereka kita beri pemahaman tentang protokol kesehatan untuk juga mengingatkan pembelinya yang melanggar. Dengan begini sosialisasi bisa langsung menyentuh masyarakat di tingkat paling bawah,’’ jelasnya. 
 
Pemilik warung ini diberikan paket gula, kopi, dan teh. Masing-masing mendapatkan 6 kilo gula, 1 bungkus kopi 320 gram, dan 2 bungkus teh. Namun, wali kota berpesan untuk pembeli dari warga kurang mampu hanya membayar separuh harga. Artinya, jika satu cangkir kopi Rp 2 ribu, untuk masyarakat kurang mampu hanya membayar seribu rupiah. Sebab, gula, kopi, dan tehnya bantuan dari pemerintah. Jika habis, wali kota meminta untuk melapor dan akan diberikan kembali. 
 
‘’Kalau satu warung menjuali 10 pembeli kali 600 warung tadi, sudah ada 6 ribu masyarakat yang dapat minum kopi murah dan mendapatkan sosialisasi tentang prokes dalam sehari. Kalau pola-pola ini rutin berjalan, semua masyarakat bisa tersentuh sosialisasi. Masyarakat paling bawah kita libatkan untuk turut menekan penularan Covid-19,’’ pungkasnya. (nanda/agi/diskominfo)