MADIUN – Kasus pembunuhan warga Kelurahan Banjarejo, Minggu (1/9) kemarin, memantik perhatian Walikota Madiun Maidi. Walikota berharap kasus cukup hanya sekali dan tak terulang lagi. Ditemui usai press release, Senin (2/9), walikota berharap masyarakat dapat menyikapi permasalahan secara dewasa dan dengan kepala dingin.

‘’Tadi sudah disampaikan kapolres seperti itu. Apa yang sudah disampaikan harus kita junjung tinggi,’’ kata walikota usai press release di halaman Polres Madiun Kota.

Terungkap saat press release, kasus pembunuhan HS warga Banjarejo, Taman, Kota Madiun oleh HC warga Wayut, Jiwan, Kabupaten Madiun lantaran dendam pribadi. Keduanya pernah berselisih paham saat mendekam di Lapas Klas 1 Madiun sekitar 2017 lalu. Tersangka mengaku sakit hati lantaran pernah dipermalukan dihadapan teman-teman di Lapas. Dendam itu ternyata dibawa hingga tersangka bebas 17 Agustus 2019 lalu.

Tersangka dibawah pengaruh minuman keras mengajak AT dan IR, dua temannya, untuk mengantarkan ke rumah korban sekitar pukul 13.00. Tanpa ba bi bu, korban langsung menusukkan pisau sangkur yang dibawanya ke arah perut korban. Naas, pisau juga mengenai liver dan ginjal korban. Korban sempat dibawa ke rumah sakit sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

Beragam kabar berhembus terkait pembunuhan itu. Salah satunya, ada yang mengaitkan dengan perguruan silat. Apalagi, momentumnya saat 1 Suro. Hal itu akhirnya terbantahkan setelah tersangka bersama dua orang temannya diamankan petugas dan langsung melakukan penyelidikan. Motif pembunuhan murni dendam pribadi tersangka dan korban dua tahun lalu.

‘’Polisi sudah melakukan tugasnya secara professional. Kalau ada yang belum jelas bisa ditanyakan kepada yang memahami. Jangan sampai membuat berita yang tidak jelas. Itu bisa menimbulkan masalah,’’ tegasnya.

Walikota berpesan agar tetap santun dan menganyomi sesuai kesepakatan. Masyarakat diminta mengedepankan perdamaian. Jangan mudah terprovokasi. Walikota optimis masyarakat Kota Madiun dapat menyikapi dengan kepala dingin. Apalagi, masyarakat sudah cukup dewasa.

‘’Kota kita sudah berusia 101 tahun. Masyarakat harus semakin cerdas dan selektif dalam menyikapi informasi yang beredar. Saya harap ini yang pertama dan terakhir,’’ pungkasnya. (ws hendro/agi/diskominfo)