Peristiwa angin puting beliung di Kabupaten Bogor pada kamis awal bulan Desember kemarin (6/12/2018) tentunya juga harus disikapi dengan bijak oleh masyarakat di daerah lainnya. Ini tidak lain untuk menggantisipasi jika daerah lainnya terkena angin puting beliung terutama di musim penghujan.

Sebelum dibahas lebih lanjut, terlebih dahulu berkenalan dengan angin puting beliung. Angin puting beliung adalah angin kencang yang berputar – putar membentuk pusaran. Di masyarakat juga terkenal sebutan lokal untuk tornado skala kecil yang terjadi di Indonesia. Nama lain angin puting beliung adalah angin puyuh, angin leysus/leses, dan angin ribut.

Di indonesia tornado skala kecil ini berada pada skala F0 dan F1. Skala F0 dimaksud jika kecepatan angin <117 km/jam, biasanya akan menyebabkan kerusakan ringan yang meliputi pada cerobong asap, cabang pohon, dan papa petunjuk. Sedangkan skala F1 dimaksud jika kecepatan angin 117-180 km/jam dan menimbulkan kerusakan sedang pada atap bangungan, pondasi rumah bergeser dan mobil yang akan terdorong.

Angin puting beliung juga dampak dari angin cumolonimbus berkecepatan tinggi berbentuk pusaran serta dalam area skala lokal yang biasa tumbuh selama musim hujan.

Bagaimana proses terjadinya angin puting beliung??? Begini infografisnya.

Infografis berikut membantu memahami tanda awal datangnya angin puting beliung.

 

Sekaligus waktu terjadinya angin puting beliung biasanya dapat dilihat berdasarkan infografis berikut.

Untuk diketahui, angin puting beliung ini tidak memiliki siklus tetap namun sangat jarang terjadi susulan di lokasi yang sama.

Berikut infografis dampak terjadinya angin puting beling