TANGERANG – Penyandang disabilitas juga manusia. Juga warga negara. Mereka memiliki hak yang sama. Pesan ini terus disampaikan Angkie Yudistia, penyandang disabilitas yang getol memperjuangkan hak-hak mereka yang berkebutuhan khusus ini. Angkie yang menjadi pembicara PR Sharing rangkaian acara Sinergi Aksi Informasi dan Komunikasi Publik (SAIK) 2018 itu seolah ingin menghapus segala jenis diskriminasi akan kaum disabilitas. Berbagai cerita menginspirasi tentang penyandang cacat mengemuka. Bahkan, terkadang melebihi kemampuan mereka yang normal sekalipun.

“Artinya, mereka juga bisa. Tetapi masih saja ada cerita yang mengesampingkan keberadaan para difabel ini,” kata Angkie saat seminar dengan tema penyandang difabel juga bisa sukses berkiprah di dunia humas tersebut.

Bahkan, menjadi seorang publik relation sekalipun. Hal itu dibuktikan Angkie. Sebagai penyandang tunarungu sejak kecil, Angkie sukses menjadi difablepreneur kini. Kerap menjadi pembicara diberbagai seminar. Keterbatasan pendengaran dan pengucapan tak mengecilkan hati perempuan 31 tahun ini. Bahkan, cacian dan hinaan kerap diterimanya. Itu tak membuatnya menyerah. Sebaliknya, menjadi pelecut baginya hingga menyelesaikan pendidikan S2. Humas tak pantang diisi penyandang difabel. Bahkan, cukup memungkinkan asal diberi kesempatan. Dia mengapresiasi langkah pemerintah yang memberikan ruang bagi penyandang disabilitas dalam rekrutmen CPNS tahun ini.

“Kebanyakan difabel sebenarnya tidak ingin dikasihani. Kami inginnya disamakan. Karena kami juga bisa seperti yang normal,” ungkapnya.

Berbagai pertanyaan mengemuka. Terutama terkait masalah difabel. Angkie menyebut orang tua mengambil peran penting. Sebab, anak yang hebat merupakan hasil didikan orang tua yang kuat. Angkie menyarankan untuk tidak menangis dihadapan anak. Entah bagaimanapun kondisinya. Menangis membuat anak turut menyesali keadannya. Ini semakin membuat mereka jatuh dan kesulitan untuk bangkit. Sebaliknya, anak-anak dengan kebutuhan khusus harus terus dikuatkan.

“Butuh waktu agar mereka berdamai dengan kondisinya. Biarkan proses yang menguatkan mereka hingga mereka menemukan keunggulan yang dimiliki dan menaklukkan dunia,” ujarnya.

Difabel, lanjutnya, memiliki harapan besar. Harapannya, masyarakat maupun instansi jadi pemberi harapan bagi mereka. Bukan sebaliknya. (ws hendro/agi/diskominfo).

#100ThMadiun
#KotaMadiunKarismatik