MADIUN – Daun kelor identik dengan kematian. Sebab, sering digunakan saat pemandian jenazah. Namun, bagaimana jika sebagai campuran masakan. Kesan seram langsung hilang seketika. Sebaliknya, lezat dan gurih mengemuka. Setidaknya begitu gambaran masakan yang diberi nama Telorungu buatan tim Kota Madiun tersebut. Makanan ini bakal melengkapi sejumlah menu lain saat Lomba Cipta Menu tingkat provinsi November mendatang.

‘’Lomba menu kali ini memang wajib menggunakan bahan non beras dan terigu. Peserta dituntut berkreasi dengan potensi lokal sebagai gantinya,’’ kata Kabid Ketahanan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Madiun Sumini, Senin (24/9/2018).

Pihaknya bersama sejumlah anggota PKK Kelurahan Pandean, Kartoharjo, dan Kelurahan Nambangan Lor sengaja membuat ulang sejumlah menu tersebut. Itu merupakan syarat keikutsertaan lomba. Menu yang dibuat wajib didokumentasikan lantas dikirim ke panitia provinsi. Ini merupakan satu tahapan penilaian sebelum puncaknya November nanti.

Terdapat sejumlah menu untuk tiga kali makan. Peserta memang dituntut menyajikan menu sarapan, makan siang, dan malam. Menu daun kelor masuk dalam jajaran siang. Untuk pagi, terdapat Sawut Karismatik dengan bahan utama ketela. Bahan ini dipilih lantaran mengandung karbohidrat yang tinggi. Apalagi, mudah dicari di Kota Madiun. Ini, katanya, sebagai pengganti karbohidrat dalam beras.

‘’Satu menu untuk satu keluarga sekaligus. Yakni, bapak, ibu, dan anak. Makanya selalu ada tiga buah setiap satu jenis makanannya,’’ ungkapnya.

Sup daun kelor bersama terong untuk menu siang ditemani jaket alias jagung dan ketela. Menu siang lebih komplit dengan tambahan dawih saos rujak dan roll tajawi. Sedang, minumnya gabungan melon kuning, mentimun dan strawberry. Begitu juga dengan menu malam yang terdiri dari nasi jagung dan kacang ijo (jagjo), sayur kaleteloge, ringamer, serta jamixu dan payanane. Sumini menyebut nama menu sengaja dipilihkan dari singkatan bahan yang digunakan.

‘’Menu harus memenuhi B2SA. Yakni, beragam, bergizi, seimbang, dan aman. Jadi tidak sekedar enak dan menarik dilihat,’’ terangnya.

Ini dimaksudkan untuk pemenuhan gizi bagi keluarga. Termasuk anak-anak yang memasuki usia remaja. Cukup gizi penting dalam tataran usia peralihan ini. Terutama remaja putri. Sebab, mereka merupakan calon ibu. Dengan kondisi yang cukup gizi diharapkan dapat melahirkan generasi yang sehat dan cerdas.

‘’Jawa Timur sempat endemis stunting (balita tubuh pendek). Menu kali ini memang disiapkan untuk mengantisipasi stunting namun dengan memanfaatkan potensi lokal daerah,’’ jelasnya.

Ketua Tim Penggerak PKK Kota Madiun Sri Ismah Sugeng Rismiyanto optimis track record apik setiap gelaran Lomba Cipta Menu tingkat provinsi bakal terulang tahun ini. Bagaimana tidak, menu kali cukup unik lagi menarik. Menu, kata dia, memang wajib mengandung karbohindrat, protein dari hewani dan nabati, serta sayur dan buah. Bedanya, zat karbohidrat tidak diperkenankan dari beras dan terigu. Peserta wajib menggantinya dengan bahan lain yang banyak ditemukan di daerah masing-masing. Syarat ini sudah terpenuhi. Belum lagi soal penampilan dan rasa yang cukup nyaman di lidah.

‘’Tahun lalu berhasil menjadi penampil terbaik. Semoga kali ini bisa jadi juara umum,’’ harapnya sembari menyebut kegiatan diawali dengan lomba serupa tingkat Kota Madiun awal September lalu. (ws hendro/agi/madiuntoday)

#tolakpitacukaiilegal
#sebarkontenpositif
#berinternetsehat
#madiunkotawifi
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun
#DBHCHT_2018