Petik Apel dan Kunjungi Pura, Ibu Pendamping Pelajari Cara Berkebun dan Toleransi Beragama

BATU – Ibu pendamping kepala daerah tidak hanya berkegiatan di dalam ruang ketika rangkaian Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) Regional IV di Kota Batu. Namun, juga melaksanakan city tour di hari ketiga, Kamis (19/4/2018). Sejumlah tempat dikunjungi. Mulai kawasan wisata petik apel dan Pura Giri Arjuna. Tujuannya, mempelajari potensi alam yang ada di Kota Batu sebagai tuan rumah kegiatan Apeksi ke-14 tersebut.
 
Kawasan Wisata Petik Apel di Desa Bulukerto Kecamatan Bumiaji, Kota Batu menjadi tempat kali pertama yang dikunjungi. Rombongan mendapat wawasan seputar kebun apel. Mulai jenis-jenisnya, cara menanam, hingga perawatan yang benar agar menghasilkan buah unggulan. Kegiatan semakin menarik dengan mencicipi buah apel hasil petikan sendiri. 
 
‘’Tadi juga ada rujak apel. Secara umum sama dengan rujak buah pada umumnya. Tetapi rasanya khas. Ini dapat diadopsi di Kota Madiun,’’ kata Ibu Walikota Madiun Sri Ismah Sugeng Rismiyanto di sela kegiatan.
 
Ibu-ibu tampak menikmati alam Kota Batu yang sejuk. Selain apel, mereka juga melihat kebun sayuran tomat. Lagi-lagi berbagai wawasan tentang sayur-mayur mengemuka. Sri Ismah menambahkan Kota Madiun juga berpotensi memiliki produk unggul dibidang agrobisnis. Namun, tentu dengan cara dan metode berbeda. Salah satunya, dengan sistem vertikal garden. Ini penting mengingat luasan wilayah Kota Madiun yang tidak kelewat luas. 
 
‘’Banyak yang bisa dipelajari. Karena secara geografis berbeda, paling tidak bagaimana cara dan sistem perkebunannya yang bisa dicontoh,’’ ungkapnya.
 
Rombongan lantas menuju Pura Giri Arjuna yang menjadi salah satu tempat peribadatan Umat Hindu disana. Sebagian masyarakat Kota Batu memang memeluk Agama Hindu. Pura yang berada di Desa Tulungrejo Kecamatan Bumi Aji itu tampak megah. Berada di lereng sebuah bukit. Sayang, pengunjung dilarang memasuki bagian dalam pura. Rombongan hanya dapat melihat keindahan tempat peribadatan itu dari depan gerbang. Kendati begitu, kemegahan sudah cukup terwakilkan.
 
‘’Sama dengan Kota Madiun, Kota Batu juga memiliki berbagai suku bangsa dan pemeluk agama berbeda-beda. Kota Madiun memiliki klenteng sebagai tempat peribadatan masyarakat konghucu,’’ ungkapnya sembari menyebut toleransi antar umat beragama di Kota Batu juga terjalin baik seperti di Kota Madiun. (agi/diskominfo).
 
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun

Jeruk Nambangan Khas Madiun Turut Hijaukan Bumi Kota Batu

BATU – Alam harus terus dilestarikan. Ini penting sebagai warisan kepada generasi penerus ke depan. Semangat pelestarian alam ini juga mengemuka saat rangkaian kegiatan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) ke-14 Regional IV di Kota Batu. Kepala daerah kota perserta Apeksi berkomitmen bersama melestarikan lingkungan. 
 
Bukan hanya sekedar berkomitmen, para orang nomor satu tersebut juga melakukan penanaman pohon khas kota masing-masing di kawasan wisata Coban Talun Desa Tulungrejo, Bumiaji kota setempat yang menjadi lokasi acara, Kamis (19/4/2018).
 
Kegiatan diawali dengan penandatangan komitmen bersama. Uniknya, banner tempat tanda tangan tidak langsung dibentangkan. Tiga kepala daerah maju untuk membentangkan. Yakni, Walikota Batu Dewanti Ruparin Diah Rumpoko, Wakil Walikota Batu Punjul Santosa, dan Wakil Walikota Madiun Armaya. 
 
Pembentangan banner juga dengan cara tak biasa. Ketiga kepala daerah tersebut membentangkan banner dengan air shofgun. Sasarannya, sebuah papan kecil. Banner langsung terbuka begitu papan jatuh tertembak.
 
‘’Kegiatan merupakan wadah untuk saling bertukar ilmu dan pengamalan antar daerah. Tujuannya, demi kemajuan bersama dalam mensejahterakan masyarakat,’’ kata Walikota Batu Dewanti Rumpoko disela acara.
 
Kepala daerah peserta Apeksi lantas melakukan penghijaun dengan penanaman pohon khas daerah masing-masing. Tak terkecuali Kota Madiun yang membawa pohon Jeruk Nambangan. Penanaman dilakukan Wawali Armaya. Jeruk Nambangan merupakan salah satu varietas jeruk dengan buah besar. Buah jeruk jenis ini manis dengan sedikit asam. Tak heran, buah terasa segar dimulut.
 
‘’Kota Madiun cukup banyak memiliki pohon khas. Salah satunya, ya Jeruk Nambangan ini. Semoga jeruk ini dapat tumbuh dan memberikan manfaat di sini (Kota Batu), ujarnya Yayak –sapaan Wawali Armaya).
 
Penanaman juga sebagai branding Kota Madiun. Pohon tersebut dapat sebagai bukti keanekaragam hayati Kota Karismatik Madiun ke depan. Aryama berharap penghijaun tidak sekedar pelengkap acara. Bukan sekedar seremonial. Namun, menjadi pelecut semangat bersama dalam rangka pelestarian lingkungan. 
 
‘’Penghijaun tidak hanya saat acara seperti ini. Tetapi harus terus dilakukan agar keberlangsungannya tetap terjaga. Ini penting sebagai warisan kepada anak cucu ke depan,’’ ungkapnya.
 
Kegiatan Tanam Pohon Khas ini sekaligus sebagai penutup rangkaian Apeksi ke-14 di Kota Batu. Acara kali terakhir tersebut juga diisi dengan seni treatrikal terkait lingkungan. Rangkaian kegiatan selama tiga hari tersebut tentunya memberikan banyak manfaat bagi masing-masing kota peserta. Tak terkecuali Kota Madiun.
 
‘’Dari kegiatan ini banyak pelajaran yang dapat dipetik. Banyak hal yang bisa diadopsi. Tujuannya, tentu demi kesejahteraan masyarakat,’’ pungkasnya sembari menyebut tertarik dengan air mancur di Kota Batu. (rama/agi/diskominfo).
 
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun

Latih Keterampilan, Ibu Walikota Ikuti Seminar dan Pelatihan Saat Apeksi di Batu

 
BATU – Rangkaian kegiatan Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) bukan hanya untuk kepala daerah. Tapi juga untuk para istri. Perempuan-perempuan pendamping kepala daerah anggota Apeksi Regional IV tersebut juga melaksanakan sejumlah kegiatan yang dikemas dalam Ladies Program. 
 
Mulai optimalisasi peran ibu dalam pendidikan anak hingga pemanfaatan barang bekas menjadi karya seni bernilai tinggi. Puluhan ibu-ibu tampak serius mengikuti kegiatan demi kegiatan di Balai Kota Among Tani Batu tersebut. 
 
‘’Kegiatan bagus dan bermanfaat. Seperti dalam mendidik anak. Seorang ibu memang harus update informasi agar dapat menyesuaikan dengan era,’’ kata Sri Ismah Sugeng Rismiyanto, istri Walikota Madiun usai acara, Rabu (18/4/2018).
 
Peserta mendapat dua materi menarik sekaligus. Pertama soal bahaya gadget terhadap anak dan pemanfaatan botol plastik bekas. Seorang ibu, kata dia, wajib melek teknologi dan informasi. Sebab, informasi mudah diakses sekarang ini. Baik yang positif maupun negatif. Anak-anak mudah mengaksesnya dengan piranti gadget. 
 
‘’Kami mendapat banyak ilmu terkait bagaimana menggunakan gadget yang bijak kepada anak. Tidak harus dilarang, tapi harus diawasi, didampingi, dan dikontrol,’’ ujarnya sembari menyebut ada beberapa aplikasi yang dapat digunakan untuk memantau penggunaan gadget pada anak.
 
Materi kedua tak kalah menariknya. Peserta disuguhkan pemanfaatan barang-barang bekas menjadi karya seni. Salah satunya, pemanfaatan botol plastik air mineral menjadi mobil-mobilan. Lagi-lagi, seorang ibu kudu kreatif. Seorang ibu dapat melibatkan anaknya untuk belajar sambil bermain dengan membuatnya bersama. Ini, lanjutnya, berkaitan dengan materi sebelumnya. 
 
‘’Ini dapat mengurangi ketergantungan anak pada gadget. Selain menekan pengaruh negatif gadget, kegiatan juga bisa mengasah keterampilan anak,’’ ungkapnya.
 
Sri Ismah mengapresiasi langkah tuan rumah Apeksi yang menyuguhkan kegiatan bermanfaat. Bukan hanya kegiatan berkaitan dengan pemerintahan. Namun, juga hal bermanfaat diluar kegiatan inti Apeksi. 
 
‘’Prinsipnya kegiatan bagus dan bermanfaat. Selamat kepada Kota Batu,’’ pungkasnya. (rama/agi/diskominfo).
 
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun

Memaknai Hari Kartini, Pemkot Ajak Lansia Tularkan Semangat Berolahraga

 
MADIUN – April identik dengan bulan perempuan. Itu karena setiap tanggal 21 masyarakat Indonesia memperingati hari Kartini. Yakni, sebagai pahlawan pelopor emansipasi wanita.
 
Kartini tak pernah putus asa untuk terus memperjuangkan pendidikan bagi perempuan. Juga, kesempatan agar kaumnya dapat menyalurkan bakat sama seperti laki-laki. Dengan kegigihannya itu, akhirnya perempuan bisa mendapatkan kesempatan yang sama dengan kaum pria.
 
Memaknai semangat Kartini, Walikota Madiun Sugeng Rismiyanto melalui Sekda Rusdiyanto mengajak para lansia untuk terus menularkan energi positif. Terutama dalam hal menjaga kebugaran tubuh. ‘’Bapak Ibu juga bisa jadi pelopor seperti Kartini bagi anak muda,’’ tuturnya dalam sambutan kegiatan senam lansia se-Kota Madiun di Stadion Wilis, Jumat (20/4).
 
Olahraga penting dilakukan secara rutin untuk menjaga kebugaran tubuh. Dengan tubuh yang sehat, maka akan semakin mudah orang untuk berkarya. Begitu pula para lansia. Umur yang tak muda lagi bukan berarti berhenti menjadi produktif. ‘’Mari jaga tubuh ini supaya tetap bugar,’’ ujarnya.
 
Tak lupa pula, Rusdiyanto mengajak para lansia untuk terus berdoa dan berusaha agar Kota Madiun semakin maju, adil, makmur, dan sejahtera.
 
Dalam kegiatan tersebut, ratusan lansia di Kota Madiun mengikuti kegiatan senam bersama. Selama satu jam, mereka dipandu dalam gerakan mirip aerobik. Namun, dengan tempo yang lebih lembut. Mulai dari pemanasan, gerakan inti, hingga pendinginan.
 
Tak hanya senam bersama, kegiatan juga diisi dengan cek kesehatan gratis bagi para lansia. Cek kesehatan meliputi tes tensi darah dan kadar gula darah. (WS. Hendro, irs/diskominfo)
 
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun

Solah Mediunan Tampil Apik Saat Parade Budaya Apeksi Di Kota Batu

BATU – Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) bukan sekedar ajang koordinasi. Namun juga sarana unjuk gigi potensi yang dimiliki. Setidaknya, itu tersaji dalam parade budaya rangkaian Apeksi ke-14 Regional IV di Kota Batu, Rabu (18/4/2018).

Kedua belas kota di Provinsi Jatim, Bali, NTT, dan NTB tersebut saling pamer budaya masing-masing. Tak terkecuali Kota Karismatik Madiun. Tari Solah Mediunan sengaja ditampilkan. Budaya khas yang baru saja dilaunching awal tahun ini tersebut tak kalah cantik dengan tampilan kota lain. Bahkan, cukup menarik perhatian.

Sebanyak 40 penari turut ambil bagian. Berbusana nuansa hijau berpadu orange menambah semarak tarian yang dibawakan. Apalagi, gerakan tari Solah Mediunan cukup energik. Maklum, gerakan merupakan perpaduan tari dan pencak silat yang menjadi khas kota pecel. Iring-iringan penari diawali dengan mobil berhias bunga segar. Terdapat belasan jenis bunga. Mobil dikonsep seperti taman dengan satu keranjang besar yang juga berhias bunga.

Wakil Walikota Armaya menyebut penampilan Kota Madiun tak kalah menarik dengan kota lain. Bahkan, memiliki keunggulan tersendiri secara orisinalitas. Sebab, penampilan sejumlah kota lain sudah dibumbuhi dengan budaya luar daerah. Seperti kesenian reyog. Seni tari topeng terbesar di dunia tersebut merupakan kesenian Kabupaten Ponorogo.

“Kesenian Kota Madiun orisinal. Ada beberapa (kota) tadi yang sudah dibumbui dengan kesenian lain,” ujarnya.

Namun, Armaya mengapresiasi gelaran parade budaya secara keseluruhan. Cukup menarik dan meriah. Banyak kesenian yang jarang dilihat. Terutama, dari sejumlah kota dari Provinsi NTT dan NTB. Mulai Kota Mataram, Bima, dan Kupang. Mereka juga tampil orisinil. Begitu juga Kota Denpasar.

“Banyak yang bisa diambil dari kegiatan ini untuk kemudian dikreasikan dengan yang baru di Kota Madiun. Prinsipnya Kota Madiun siap kalau ditunjuk sebagai tuan rumah,” tegasnya.

Gelaran parade ditutup dengan kesenian bantengan khas Kota Batu. Sekilas kesenian mirip kebo gila. Sejumlah pemain yang memerankan mengalami kesurupan. Tak heran, membuat histeris pengunjung. Kesenian diawali dengan aksi memainkan cambuk. Beberapa menyemburkan minyak dari mulut dengan disulut api.

Pemain bantengan masuk ke depan panggung. Berkumpul di tengah membentuk lingkaran kecil. Pemain melingkari sebuah sesaji di tengah. Berupa kuali berisi air dan bunga. Lengkap dengan kemenyan dan lainnya. Pemain langsung kesurupan begitu kuali dibanting ke aspal. Beberapa pemain lain yang bertugas menjaga tak kuasa menahan. Beberapa langsung berjatuhan. Suasana kian mistis dengan eraman pemain yang kesurupan. Satu persatu pemain disadarkan sang pawang. Kesenian ini menjadi penutup yang menarik. (agi/diskominfo)

Apeksi Sarana Peningkatan Semangat, Komitmen, dan Komunikasi Demi Pembangunan Berkelanjutan

BATU – Pembangunan berkelanjutan atau sustainable development goals (SDGs) suatu daerah wajib terus ditingkatkan. Salah satu caranya dengan meningkatkan kerja sama antar daerah. Itu menjadi salah satu tujuan utama Rapat Koordinasi Komisariat Wilayah (Rakorkomwil) IV Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) ke-14, Rabu (18/4/2018).

Bertempat di Singhasari Resort Kota Batu, komitmen untuk memacu kerja sama itu terus digelorakan peserta rakorkonwil yang terdiri 12 kota di Provinsi Jatim, Bali, NTT, dan NTB tersebut.

“Terdapat tiga cara untuk mencapai tujuan MDGs. Yakni, semangat, komitmen, dan komunikasi. Apeksi merupakan salah satu cara untuk mewujudkan itu semua,” kata Asisten III Bidang Administrasi Umum Provinsi Jatim Abdul Hamid saat pembukaan Rakorkonwil Apeksi.

Kepala daerah, kata dia, harus semangat dalam berbagai hal. Semangat membangun daerahnya hingga semangat berkoordinasi dengan daerah lain. Ini harus dilandasi komitmen tinggi. Komitmen untuk terus membangun dan bekerja sama. Ini, lanjutnya, tidak akan berarti tanpa adanya komunikasi. Tak heran, Apeksi penting dilakukan. Sebab, Apeksi bukan sekedar ajang berkumpul. Namun, sarana meningkatkan kedekatan dan kerja sama.

“Apeksi merupakan instrumen komunikasi antar pemerintah kota. Sebagai sarana bersama meningkatkan potensi daerah masing-masing. Disini terjalin simbiosis mutualisme. Artinya, saling mengisi dan memberi. Ini penting untuk kemajuan bersama,” jelasnya.

Sebagai contohnya, peningkatan ekonomi Kota Batu dan Kota Madiun yang cukup signifikan. Peningkatan ekonomi mencapai 6,49 persen tahun lalu. Tertinggi secara nasional. Ini dapat menjadi percontohan bagi daerah lain. Abdul menyebut peningkatan perekonomian juga terjadi di kota lain. Namun, belum signifikan. Harapannya, sejumlah kota ini terpacu untuk terus meningkatkan daerahnya.

“Muaranya sama, menekan kemisikinan, meningkatkan kesehatan dan pendidikan demi kesejahteraan masyarakat,” terangnya.

Wakil Walikota Madiun Armaya menyebut banyak manfaat yang di dapat dari pertemuan Apeksi. Setiap daerah memiliki kesempatan untuk mempromosikan potensi masing-masing. Mulai melalui pameran UMKM hingga parade budaya. Belum lagi mengenai program dan arah kebijakan pemerintah ke depannya. Berbagai keputusan mengemuka saat rakor. Salah satunya, terkait penghapusan moratorium agar dapat melakukan penerimaan cpns sebagai penunjang kebutuhan peningkatan pelayanan masyarakat.

“Prinsipnya segala keputusan bertujuan akhir untuk peningkatan pelayanan demi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya. (agi/diskominfo)

Pemkot Siapkan Kader Kesehatan Sekolah

 
MADIUN – Bidang pendidikan dan kesehatan menjadi salah satu prioritas pembangunan Kota Madiun. Bahkan, tahun lalu Madiun berhasil meraih Swasti Saba. Yakni, penghargaan khusus dalam kategori kota sehat. Pencapaian itu tak lepas dari dukungan fasilitas yang memadai, perilaku masyarakat, serta kerjasama yang solid dari semua pihak.
 
Pemkot Madiun dalam hal ini Dinas Kesehatan dan KB menyelenggarakan Lomba Kader Kesehatan Sekolah, Rabu (18/4). Kegiatan tersebut bekerjasama dengan Dinas Pendidikan. Tujuannya, membentuk perilaku hidup sehat di lingkungan sekolah.
 
Kader kesehatan dipilih oleh pihak sekolah melalui program Unit Kesehatan Sekolah (UKS). ‘’Diharapkan pesertanya mencapai 10 persen dari jumlah siswa di sekolah tersebut,’’ tutur Plt. Dinas Pendidikan Kota Madiun Heri Ilyus dalam pembukaan kegiatan tersebut di Pusdiklat Perhutani.
 
Total peserta yang mengikuti lomba kader kesehatan mencapai 67 siswa berprestasi. Rinciannya, 22 siswa SD, 19 siswa SMP, dan 15 siswa SMA/sederajat.
 
Peserta lomba mendapat pembekalan pendidikan kesehatan. Khususnya, tentang UKS dan kesehatan reproduksi remaja. Selain itu juga materi penundaan perkawinan.
 
Tak hanya itu, para peserta juga harus mengikuti tes tulis dan pemeriksaan kesehatan oleh tim juri. Salah satunya, tes fungsi panca indra.
 
Ke depan, harapannya perilaku sehat dari pelajar yang mengikuti lomba ini dapat dicontoh oleh teman-temannya. Juga, masyarakat di lingkungan sekitar sekolah dan keluarga. ‘’Perilaku hidup sehat akan berimbas kepada sekelilingnya,’’ imbuh Heri.
 
Kegiatan ini adalah upaya peningkatan kesehatan sekolah. Yakni, dengan cara mendekatkan siswa pada pendidikan kesehatan sebagai aplikasi dari TRIAS UKS. Serta, untuk mencari kader UKS yang berprestasi sebagai perwakilan dalam lomba serupa di tingkat yang lebih tinggi. (adit,luki /diskominfo)
 
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun

Kota Madiun Optimis Jelang Seleksi Adminitrasi LCCK Tingkat Provinsi Jawa Timur

 
MADIUN – Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Anyelir Kelurahan Kejuron terpilih untuk mewakili Kota Madiun dalam Lomba Cerdik Cermat Komunikatif (LCCK) di tingkat Provinsi Jawa Timur. Persiapan terus dimatangkan Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kota Madiun untuk mendapatkan hasil yang maksimal. 
 
Seleksi administrasi LCCK berlangsung 24 April mendatang. ‘’Secara rutin Diskominfo menggandeng relawan TIK untuk membina dan mendampingi di semua tahapan LCCK Jatim,’’ ujar Kepala Diskominfo Kota Madiun Subakri saat membuka kegiatan rutin Pembinaan KIM dan Pertura, Selasa (17/4).
 
Pemkot melalui Diskominfo juga akan memfasilitasi KIM se-Kota Madiun untuk optimalisasi pengelolaan web. Domain kimkelurahan.madiunkota.go.id disediakan untuk wadah blog KIM se-Kota Madiun. “Web KIM yang sudah berjalan dapat diimigrasikan ke domain kimkelurahan.madiunkota.go.id,”terangnya.
 
Pelaksanaan seleksi administrasi LCCK Jatim terbagi dalam empat grup bersama 38 kota/kabupaten se-Jatim. Dalam hal itu, Kota Madiun masuk dalam grup B seleksi administrasi kompetisi itu.
 
Untuk mematangkan persiapan, Diskominfo bekerjasama dengan beberapa pihak. Karenanya, Kota Madiun semakin optimis mendapatkan hasil yang terbaik dalam perlombaan tersebut. “Kontribusi dan upaya telah ditunjukkan oleh KIM se-Kota Madiun,” tuturnya. 
 
Tahun lalu, Madiun berhasil meraih juara II melalui KIM Citra Taruna Kenanga Kota Madiun. Prestasi itu semakin memupuk semangat Kota Madiun untuk kembali menyabet gelar juara tahun ini.
 
Beberapa persyaratan harus dipenuhi agar dapat lolos dalam tahapan administrasi. Antara lain, KIM mengunggah minimal tiga tulisan di web KIM Jatim. Artikel yang dimuat itu harus mencakup seluruh Kota Madiun. Tidak sedekar satu kelurahan saja.
 
Hingga saat ini, KIM Anyelir telah memiliki dua artikel yang sudah dimuat dalam web KIM Jatim. ‘’Juga sudah melengkapi persyaratan lainnya, ungkap Kepala Bidang Komunikasi dan Informasi Publik Iroh Surinah. Dalam kesempatan itu, Iroh juga memberikan penjelasan petunjuk teknis seleksi administrasi tingkat Jatim.
 
Dalam Pembinaan KIM yang dilaksanakan rutin setiap bulannya, peserta selalu disuguhkan penampilan fragmen Pertura. Pertura yang ditampilkan merupakan kolaborasi antara pegiat seni bersama KIM Anyelir Kelurahan Kejuron. (adit,luki /diskominfo)
 
#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun

Apeksi Ajang Koordinasi dan Bertukar Pikiran Demi Kemajuan

 
BATU – Setiap daerah wajib menjalin hubungan baik dengan daerah lain. Tak terkecuali daerah pemerintah kota. Tergabung dalam Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) regional IV, belasan kepala daerah bertemu. Bertempat di Balai Kota Among Tani Batu, mereka mengusung satu misi sama. Yakni, saling mengisi dan memberi masukan demi kemajuan bersama. 
 
Walikota Madiun Sugeng Rismiyanto menyebut, pertemuan ini penting. Sebab, banyak hal yang dapat dipetik. Khususnya untuk Kota Madiun. 
 
“Ini acara penting dan luar biasa. Salah satunya dari tuan rumah. Mulai alamnya, kesenian, dan lain sebagiannya. Banyak yang bisa dipelajari dari sini,” ujarnya seusai Gala Dinner, Selasa (17/4/2018) malam.  
 
Kota Madiun memang menjadi bagian Apeksi Regional IV bersama 12 kota lain di Provinsi Jatim, Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT)  serta Nusa Tenggara Barat (NTB). Pertemuan bukan sekedar gala dinner. Namun, juga rapat koordinasi yang bakal digelar, Rabu (18/4/2018). Walikota menyebut bakal banyak keputusan mengemuka. Tentu keputusan demi kemajuan daerah. Termasuk untuk Kota Madiun. Tak heran, acara penting dan perlu. 
 
“Harapannya, Kota Madiun dapat menampilkan sesuatu yang baru ke depan. Mulai wisata, seni-budaya, atau yang lainnya,” harapnya. 
 
Beragam acara tersaji dalam Apeksi ke-14 tersebut. Mulai gala dinner, rakor, hingga pawai budaya. Gala dinner berlangsung meriah nan seru. Sejumlah kepala daerah saling bertukar cinderamata. Tujuannya, untuk memberikan kenangan sekaligus mempromosikan potensi masing-masing. Tuan rumah memberikan plakat berbentuk buah apel sebagai buah khas. Selain itu, juga kain batik. Sementara, Kota Madiun memberikan batik pecelan dan beberapa makanan khas. 
 
Gala dinner ditutup dengan penampilan tari seribu topeng. Menariknya, penari mengajak sejumlah kepala daerah untuk turut menari. Walikota Madiun menjadi kepala daerah pertama yang mendapat kesempatan. Diluar dugaan, walikota tampak luwes menari. Bahkan, cukup mengimbangi penari aslinya. Tak heran, memantik tepuk tangan hadirin. (agi/diskominfo).

Kapolres-Ndandim-Kajari Cicipi Pecel, Walikota Batu Beli Sepatu Rajut, Wawali Bantu Jualan Saat Pameran UMKM Apeksi 

 
MADIUN – Nasi pecel Madiun kembali mencuri perhatian. Buktinya, makanan khas Kota Karismatik Madiun itu ludes diserbu pengunjung saat pameran usaha mikro kecil menengah (UMKM) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) Regional IV di Balai Kota Among Tani Kota Batu, Selasa (17/4/2018).
 
Pecel yang dipamerkan ludes dalam waktu kurang dari sejam. Bukan hanya pengunjung, sejumlah kepala daerah dan Forpimda Kota Batu juga tak melewatkan untuk mencicipi pecel. Banyaknya pengunjung yang ingin mencicipi membuat Wakil Walikota Armaya turut membantu melayani. 
 
“Yang jelas pecel Madiun berbeda dengan yang lain. Punya ciri khas tersendiri,” kata Kapolres Kota Batu AKBP Budi Hermanto setelah mencicipi. 
 
Pecel Madiun, kata dia, memiliki bumbu yang sedap. Berbeda dengan pecel daerah lain yang pernah dicicipinya. Termasuk lauk daging empalnya yang empuk. 
 
Hal senada diungkapkan Komandan Kodim 0818 Letkol Inf Ferry Muzawwad. Dia menyebut pecel Madiun tiada duanya. Nyaris setiap daerah memiliki pecel sekarang. Namun, kebanyakan sudah disesuaikan dengan karakteristik daerah masing-masing. Ini menjadikan banyak varian. Namun, pecel original tetap dari madiun. 
 
“Kalau bilang pecel, ya Madiun. Mau dibanding-bandingkan tetap pecel Madiun jagonya,” ungkapnya. 
 
Kepala Kejari Kota Batu Nur Chusniah juga tak mau kalah. Dia menyebut pecel Madiun memiliki banyak sayuran. Ini, kata dia, membuat pecel semakin segar. Selain itu, juga menyehatkan. 
 
“Sayuran lengkap, sambelnya juga beda. Sedikit pedas tapi gurih,” ungkapnya. 
 
Walikota Batu Dewanti Ruparin Diah Rumpoko lebih tertarik dengan hasil kerajinan yang turut dipamerkan. Mulai batik pecelan, brem, dan kerajinan rajut. Bahkan, sepasang sepatu rajut menarik perhatiannya. Orang nomor satu di Kota Batu tersebut langsung membeli setelah mencobanya. 
 
“Stan pamerannya unik. Produknya juga tak kalah unik. Apalagi sepatu rajutnya. Unik dan desainnya kekinian,” ujarnya. 
 
Wakil Walikota Madiun Armaya menyebut sengaja menampilkan potensi kuliner dan kerajinan lokal. Ini penting untuk memamerkan produk kepada daerah lain secara langsung. Terdapat 13 kota yang tergabung dalam regional IV. Ini, lanjutnya, merupakan kesempatan langka. 
 
“Tentu harapannya agar bisa semakin dikenal, bisa diminati, dan nantinya bisa datang ke Madiun. Artinya, tingkat kunjungan meningkat yang secara tidak langsung meningkatkan pendapatan masyarakat dan pemerintah,” pungkasnya. (agi/diskominfo)
Page 1 of 3312345...102030...Last »




Call Center :
081 249 83 1266

LPPL RADIO SUARA MADIUN

Link