MADIUN – Universitas PGRI Madiun (UNIPMA) menerima 27 mahasiswa dari dua program Kemenristekdikti. Program Sistem Pembelajaran Daring Indonesia (SPADA) dan Pertukaran Mahasiswa Nusantara (Permata).

Puluhan mahasiswa tersebut berasal dari berbagai perguruan tinggi di berbagai daerah. Mereka bakal menyerap ilmu di kota pecel. Baik di kampus maupun di Kota Madiun pada umumnya. Rombongan ini berkunjung ke Balaikota untuk bertemu walikota, Senin (22/10). Tujuannya, meminta restu sekaligus menimba ilmu. Rombongan diterima langsung Walikota Madiun Sugeng Rismiyanto bersama Sekretaris Daerah Kota Madiun Rusdiyanto.

Rektor UNIPMA Parji mengatakan mahasiswa dari berbagai daerah ini diterjunkan langsung kelapangan agar dapat berbaur dengan masyarakat dan budaya Kota Madiun.

‘’Mahasiswa diharapkan dapat merasakan atmosfir di kampus lain. Selain itu juga untuk menjalin kerekatan nasional,’’ ungkapnya.

Program ini, lanjutnya, dimaksud agar wawasan kebangsaan, kepemimpinan, dan multikultur dari mahasiswa terbentuk. Sebab, para mahasiswa ini merupakan calon pemimpin masa depan.

Walikota Madiun menerima dengan tangan terbuka. Apalagi, untuk keperluan pendidikan. Walikota paham benar dunia pendidikan tinggi. Maklum, walikota juga mantan rektor. Namun, akhirnya menerima pinangan untuk menjadi abdi rakyat. Dia membeberkan alasannya terjun kepanggung politik. Sebagai akademisi, mantan rektor ini ingin memberikan investasi jangka panjang dengan programnya. Mulai, bidang sosial, kesehatan dan pendidikan.

Program hunian layak untuk mengentaskan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) merupakan investasi jangka panjang dibidang sosial. Di bidang kesehatan, fasilitas yang layak diberikan melalui program Jaminan Kesehatan Masyarakat Semesta (Jamkesmasta). Sedang, bidang pendidikan, masyarakat dijamin pendidikan gratis sampai kelas sembilan. Program pendidikan gratis ini awalnya hingga 12 tahun. Namun, terpaksa menurun sampai sembilan tahun setelah kewenangan SMA sederajat ditarik pemprov 2017 lalu.

‘’Kesehatan, hunian layak, dan pendidikan merupakan sokoguru dari arti kesejahteraan dan investasi jangka panjang. Tiga hal inilah yang menarik saya untuk terjun ke politik,’’ ujarnya.

Namun gagasan tersebut harus ada penguatan dari pihak lain. Apalah arti walikota dan pejabat lainnya tanpa ada dukungan dari Aparatur Sipil Negara (ASN) dan stakeholder lainnya. Menjadikan suatu yang baik butuh kebersamaan dan dukungan dari berbagai pihak. Tidak hanya referensi dari satu titik. Namun, kebersamaan yang harus terus gaungkan.

Walikota menambahkan mahasiswa untuk tidak takut menggeluti dunia politik. Tentu saja, berpolitik dengan wawasan kebangsaan yang mumpuni. Sehingga kelak bisa menjadi politikus yang mengutamakan kepentingan negara, dan pemimpin yang mendengar masyarakatnya.

‘’Jangan segan-segan untuk menjadi politikus yang negarawan. Artinya, politikus yang benar-benar mengabdikan diri untuk negara dan masyarakat,’’ pungkasnya.

Program SPADA dan Permata diikuti oleh 15 mahasiswa Universitas PGRI Semarang, dua dari Universitas Medan Area, dan empat dari IKIP Mataram. Selain itu, Universitas Perjuangan Tasikmalaya mengirim empat mahasiswa dan dua mahasiswa dari Intitut Pendidikan Indonesia. (devit/adit/rama/diskominfo)