MADIUN – Pernikahan baiknya bukan hanya sah secara agama. Namun, juga tercatat secara hukum. Ini penting agar status pernikahan masyarakat jelas. Pemkot Madiun berupaya memfasilitasi pasangan di Kota Madiun agar pernikahan mereka tercatat sah secara hukum maupun agama melalui nikah massal, Rabu (11/7/2018). Nikah massal diikuti tujuh pasang tersebut berlangsung khidmat.

Acara diawali dengan prosesi ijab qobul di Masjid Agung Baitul Hakim. Semua pasangan melaksanakan ijab qobul kendati ada yang sudah melakukan nikah siri sebelumnya. Pernikahan ketujuh pasang ini lantas dicatatkan secara hukum. Acara berlangsung khidmat kendati terdapat salah satu pasang yang sempat pingsan sesaat sebelum mengucap ijab qobul. Bukan lantaran tegang. Namun, lantaran kondisi yang kurang fit karena mabuk perjalanan.

Ketujuh pasang lantas menuju Kecamatan Manguharjo guna mengikuti resepsi. Walikota Madiun Sugeng Rismiyanto tampak mengantarkan salah seorang penganten putri. Sedang, Wawali Armaya menjadi pengiring penganten pria. Layaknya prosesi pernikahan, ketujuh pasang juga melakukan sejumlah prosesi. Mulai kacar-kucur hingga dulangan. Prosesi dilakukan serentak dalam satu panggung pernikahan. Keseluruhan acara prosesi berjalan khidmat.

‘’Pasangan yang hanya melakukan pernikahan secara agama beresiko hukum. Pemkot prinsipnya ingin membantu masyarakat menekan segala resiko tersebut,’’ kata Walikota Madiun Sugeng Rismiyanto usai prosesi.

Resiko yang dimaksud beragam. Mulai status dalam KTP, KK, hingga kepengurusan akta lahir bagi anak hingga akta kematian kelak. Data kependudukan saat ini memang vital. Tak heran, wajib dipenuhi setiap pribadi masyarakat. Pemkot, kata dia, bertekad memberantas ketidaklengkapan data bagi masyarakat.

‘’Kami juga akan bekerja sama dengan masyarakat hingga tokoh untuk ikut mengingatkan pentingnya data kependudukan bagi masyarakat. Makanya, acara seperti ini kami gelar rutin setiap tahun,’’ ungkapnya.

Kepala Dinsos PP dan PA Kota Madiun Heri Suwartono menyebut acara nikah massal kali ini diikuti tujuh pasang. Jumlah menurun dari tahun ke tahun. Ini, lanjutnya, merupakan pertanda baik. Paling tidak masyarakat Kota Madiun mulai sejahtera. Selain itu, tingkat kesadaran akan taat hukum dan syariat agama cukup besar. Kendati begitu pihaknya menyebut bakal terus menggelar acara nikah massal.

‘’Prinsipnya pemerintah terus memfasilitasi. Silahkan ini dimanfaatkan,’’ ungkapnya sembari menyebut semua prosesi pernikahan ditanggung pemerintah.

Acara nikah massal kali ini diikuti pasangan tertua dengan usia 88 tahun untuk pengantin prianya. Sedang, yang termuda berusia 33 tahun. (ws hendro/agi/diskominfo)