MADIUN – Beberapa waktu lalu, salah satu brand fashion moslem mengalami masalah internal. Bahkan ditengarai sejumlah praduga mengemuka di kedua belah pihak. Masing – masing saling mengklaim bahwa dia yang paling benar? Hingga sejumlah  keluar yang menyebabkan permasalahan tersebut bukannya terselesaikan namun bertambah pelik.

Kebetulan saya terlibat di dalam permasalahan ini (saya salah satu yang menjual brand tersebut). Namun mungkin saja saya tidak tahu permasalahan yang dihadapi oleh brand tersebut secara mendalam. Tapi yang jelas sesubyektifnya saya menilai, ini dikarenakan tidak adanya komunikasi yang efektif diantara suplier dan sellernya.

Sebagai mantan salah satu mahasiswa di kampus yang bahkan dulu pernah diplesetkan sebagai jurusan purel (waduh ini terlalu ya hehe) tergelitik dong membuat tulisan ini. Walau sudah pasti ini subyektif karena dari sudut pandang saya pastinya serta tidak mendapatkan konfirmasi informasi yang lebih tepat dari salah satu pihak yang bermasalah tersebut, namun ijinkan saya membahas sedikit saja dalam tulisan ini. Tulisan ini juga sebagai bentuk pelarian saya ketika semua pekerjaan saya di kantor sudah saya handle ya (emak – emak bingung mau ngapain).

Permasalahan komunikasi yang muncul dalam brand tersebut terjadi ketika ada perubahan sistem. Dimana dalam perubahan sistem tersebut, brand tersebut hanya mengkomunikasikan pemilihan sistem melalui pesan broadcast dalam aplikasi telegram.

Kegagalan komunikasi terjadi ketika penjual (seller) yang jumlahnya 100an orang memiliki interprestasi/penafsiran yang berbeda satu sama lain. Sehingga ketika mereke (seller) memilih pilihan satu tentunya dengan harapan yang sama sesuai dengan penafsirannya masing – masing. Dan akhirnya ketika diputuskan sistem apa yang digunakan pada berdasarkan polling dan dijelaskan lebih lanjut terjadilah keributan karena tidak adanya kesamaan persepsi.

Dalam komunikasi, sangat lazim suatu pesan memiliki makna yang berbeda antara satu individu dengan individu lainnya. Karena makna pesan berkaitan dengan penafsiran yang menerimanya. Berkaitan dengan makna ini, Brodbeck (1963) (dalam Fisher, 1985:344-5) menjelaskan tiga macam makna yang berbeda – beda.

Pertama makna referensial, yaitu makna suatu istilah mengenai obyek, pikiran, ide atau konsep yang ditunjukkan oleh istilah itu. Makna itu lahir dari pikiran seseorang ketika suatu istilah merujuk pada suatu objek. Misal istilah makanan yang merujuk pada nasi, sayur, atau lauk yang berarti sesuatu yang dapat dimakan.

Kedua, makna yang menunjukkan arti suatu istilah yang dihubungkan dengan konsep – konsep lain. Misal istilah perang dingin. Dan ketiga, makna intensional, yakni suatu istilah atau lambang tergantung pada apa yang dimaksudkan oleh si pemakai dengan arti lambang itu. Makna inilah yang melahirkan makna individual.

table proses komunikasi

Selain itu Little John juga menyimpulkan bahwa makna mempunyai 3 dimensi, yaitu :
1. Dimensi Referential (referen atau rujukan) berarti bahwa secara jelas kata – kata dan symbol yang lain untuk menunjukkan objek, situasi, kondisi, atau pernyataan.
2. Dimensi Experiential (pengalaman dan pendidikan) artinya makna adalah bagian terbesar dari suatu pengalaman tentang objek.
3. Dimensi Purposive (tujuan) maksudnya tujuan seseorang berkomunikasi adalah aspek yang penting dari makna.

Sehingga kegagalan komunikasi sehingga menimbulkan konflik diatas bisa dikaitkan dengan adanya perbedaan makna dari komunikannya (penerima pesan).

Kegagalan Komunikasi sering terjadi antara komunikator dan komunikan sebagian besar dipengaruhi faktor – faktor dibawah ini :
a. Pesan sulit dimengerti
Pesan yang berbelit – belit dan memutar – mutar tanpa ada gagasan inti jelas membuat komunikasi sulit memahami pesan yang disampaikan. Sehingga penggunaan bahasa efektif dan efisien diperlukan untuk mengantisipasi kegagalan komunikasi.
b. Persepsi negatif
Persepsi negatif komunikan terhadap komunikator juga mempengaruhi berhasil tidaknya penyampaian pesan. Dengan membangun image positif komunikator, menjalin hubungan baik dengan komunikan akan mencegah adanya persepsi negatif.
c. Tidak percaya diri.
Komunikator yang tidak percaya diri secara tidak langsung akan membuat komunikan menjadi tidak betah mendengarkan pesan yang ingin disampaikan, sehingga pesan tidak dapat diterima dengan baik oleh komunikan yang menyebabkan kegagalan komunikasi.
d. Kedekatan Komunikan dengan Komunikator
Kedekatan kelompok juga menjadi faktor penentu keberhasilan komunikasi. Apalagi jika komunikasi tersebut berkaitan dengan biaya.
e. Gangguan komunikasi
Gangguan disini dimaksud adalah gangguan fisik yang menyebabkan kegagalan komunikasi.
f. Bahasa tidak sama
Penggunaan bahasa yang tidak sama jelas menjadi penyebab kegagalan komunikasi. Sebenarnya tidak perlu bahasa yang tidak sama, dialek atau logat yang berbeda juga menjadikan makna yang diterima jadi berbeda.

Setelah mengetahui faktor – faktor diatas sebenarnya komunikasi dua arah antara komunikator dengan komunikan akan mengurangi tingkat kegagalan komunikasi. (ly/ppid)