MADIUN – Akhir ini pembicaraan stunting mengemuka kembali. Berbagai sosialisasi dan upaya mencegah stunting dilaksanakan mulai pemerintah pusat hingga tingkat daerah.

 

Upaya yang dilakukan pemerintah dalam memerangi stunting ini bukan tanpa alasan. Hal yang menjadi salah satu penyebab utama pemerintah kembali mengangkat permasalahan stunting ini adalah dikarenakan saat ini status stunting di Indonesia berdasarkan WHO berada pada perangkat lima dunia atau berada di angka 20,1%.

 

Hal tersebut tentunya tidak bisa dipandang sebelah mata, karena WHO juga menentapkan batas toleransi stunting maksima 20% dari jumlah keseluruhan baduta (bawah dua tahun). Sehingga pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terus berupaya mengingatkan masyarakat tentang pentingnya mengenal dan mencegah stunting dari dini.

Sebenarnya apa itu stunting??? Dan apa efek terburuk bagi perkembangan anak sehingga stunting wajib kita waspadai? Berikut penjelasan yang kami dapatkan.

 

 Pengertian Stunting

 

Stunting adalah kondisi tumbuh dan kembang anak yang terganggu akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan psikososial anak yang tidak seimbang.

 

Sedangkan menurut UNICEF, Stunting didefinisikan sebagai persentase anak – anak usia 0 sampai dengan 59 bulan, dengan tinggi dibawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) yang diukur dari standar pertumbuhan anak dari WHO.

Kondisi stunting bahkan bisa dimulai sejak anak dalam kandungan, ini dikemukakan oleh WHO yang menyatakan stunting anak 20% sudah terjadi pada anak dalam kandungan. Penyebab stunting anak dalam kandungan dikarenakan asupan gizi ibu selama kehamilan kurang berkualitas sehingga menyebabkan nutrisi yang diterima janin kurang.

 

Selain pertumbuhan yang terhambat, stunting juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal sehingga menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang berdampak pada prestasi belajar anak.

 

Penyebab Stunting

 

Berdasarkan peraturan dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 2013 menyatakan penyebab langsung stunting adalah nutrisi dari asupan makanan yang kurang mulai dari sebelum kehamilan sampai 1000 hari pertama kehidupan serta kemungkinan infeksi karena sanitasi buruk.

 

Sedangkan penyebab stunting secara luas tidak bisa dilepaskan dari permasalahan kemiskinan, pendidikan, pola hidup, serta kebutuhan air bersih.

Perkembangan stunting adalah proses yang lambat, kumulatif dan tidak berarti bahwa asupan makanan saat ini tidak memadai. Kegagalan pertumbuhan mungkin terjadi di masa lalu seseorang.

 

Gejala Stunting

 

Bagaimana mengetahui anak tersebut mengalami stunting selain memantau pertumbuhannya sejak lahir? Berikut gejala anak yang mengalami stunting :

  1. Berat badan tidak naik atau cenderung turun. Selain itu berat badan lebih rendah dibanding anak seusianya juga merupakan gejalanya.
  2. Tinggi badan anak lebih pendek dari anak seusianya.
  3. Pertumbuhan tulang tertunda.
  4. Perkembangan tumbuh terhambat.
  5. Anak lebih mudah terkena infeksi.

 

Dampak/ Efek dari Stunting

 

Dampak dan efek yang didapat jika anak mengalami stunting adalah sebagai berikut :

  1. Kesulitan belajar
  2. Kemampuan kognitif yang lemah
  3. Rentan terhadap penyakit infeksi
  4. Resiko mengaami berbagai penyakit kronis.
  5. Ibu yang lahir stunting cenderung melahirkan anak yang mengalami stunting sehingga menyebabkan kemiskinan antar generasi.
  6. Melebarkan kesenjangan ekonomi
  7. Menurunkan PDB dan potensi kehilangan pendapatan.

 

Menanggulangi atau Mencegah Stuntinng

 

Apakah jika mengalami stunting bisa diperbaiki? Sayangnya hal itu tidak bisa dikembalikan seperti semula. Jika seseorang sudah terkena stunting maka pertumbuhannya akan terus terhambat sampai ia dewasa.

 

Namun stunting bisa dicegah sejak dini. Waktu terbaik untuk mencegah stunting adalah dari bayi itu dalam kandungan hingga dua tahun pertama kehidupan (1000 hari pertama kehidupan). Yakni dengan memberikan nutrisi yang maksimal pada tahapan tersebut.

 

Bahkan Kementerian Kesehatan terus menerus melakukan kampanye gizi sehat baik melalui narasi tunggal yang serempak di seluruh Indonesia dan kampanye hingga ke tingkat paling kecil masyarakat yakni melalui posyandu.

Pemerintah juga bekerja sama dengan stokeholder melalui forum multi stokeholder (WNPG). WNPG meliputi isu terkini ilmu pengetahuan dan mencari solusi permasalahan terkait pangan gizi. (ly/ppid)

 

 

*Dari berbagai sumber