MADIUN – Batik telah berkembang dan menjadi salah satu ikon di Kota Madiun. Berbagai corak dikreasikan sesuai dengan ciri khas kota karismatik. Misalnya, keris Retno Dumilah, batik pecel, dan motif lainnya.

Namun, upaya pengembangan saja tidak cukup. Untuk melindungi hasil karya khas Kota Madiun itu, pemkot melakukan langkah tegas. Yakni, dengan mendaftarkan batik Madiun untuk mendapatkan hak paten. ‘’Ada 12 motif yang akan dipatenkan,’’ tutur Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Madiun Agus Purwo Widagdo ditemui setelah gelaran Gebyar Batik 2018 di halaman Balaikota Madiun, Sabtu (5/5).

Sementara itu, Walikota Madiun Sugeng Rismiyanto menuturkan bahwa batik sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia pada 2 Oktober 2009. Karena itu, Kota Madiun juga harus ikut andil dalam upaya pelestarian budaya itu. ‘’Kita harus uri-uri budaya. Ada produktifitas yang nyata di dalam masyarakat,’’ ujarnya.

Meski demikian, Sugeng juga menantang masyarakat untuk berkreasi menciptakan ikon baru. Sehingga, menambah ikon-ikon sebelumnya yang sudah ada. Dengan begitu, khasanah khas Kota Madiun akan semakin berkembang dan menyesuaikan zaman.

Sugeng menjelaskan, Kota Madiun tidak memiliki sumber daya alam (SDA). Karena itu, keterampilan dan kreativitas masyarakat penting sebagai modal untuk menuju kehidupan yang lebih sejahtera. ‘’Silakan berkreasi apa saja yang khas di tahun 2018,’’ imbuhnya. (WS. Hendro, irs/madiuntoday)