MADIUN – Bencana datang tanpa tanpa diduga. Bisa menimpa siapa saja. Tak ayal, setiap orang wajib waspada. Pemerintah setempat harus turut menjaga dengan memberikan pendidikan tanggap kedaruratan. Harapannya, masyarakat dapat lebih siap ketika bencana datang.

‘’Berbicara tentang bencana, harus selalu beranggapan kalau bencana akan datang. Bukan mengharap, tetapi agar selalu berfikiran waspada dan menyiapkan langkah antisipasinya,’’ kata Walikota Madiun Sugeng Rismiyanto saat penyuluhan dan penanggulangan bencana di aula Kecamatan Kartoharjo, Kamis (12/4/2018).

Sugeng berharap semua pihak selalu waspada. Bukan hanya petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) atau Kepolisian dan TNI. Namun, semua pihak termasuk masyarakat. Paling tidak masyarakat tanggap apa yang harus dilakukan ketika bencana datang. Ini penting agar akibat dari bencana dapat diminimalkan.

Sugeng menyebut tentu bukan perkara mudah. Tak heran, butuh penyuluhan dan pendampingan. Walikota berharap masyarakat mendapat penyuluhan menyeluruh terkait bencana. Meski, tidak semua bencana berpotensi besar di Kota Madiun. Sebab, Kota Madiun tidak memiliki geografis pegunungan. Bencana longsor dan erupsi gunung berapi berpotensi kecil. Apalagi, dua gunung terdekat (Wilis dan Lawu) dalam kondisi tidur sementara ini.

‘’Penanggulangan bencana harus berfikir jauh kebelakang. Mulai pembangunan dan lainnya sudah harus disertai antisipasi bencana. Bukan hanya bagaimana penanganan saat bencana datang,’’ ujarnya.

Walikota berharap masyarakat selalu mewaspadai banjir dan kebakaran. Sebab, potensi keduanya cukup besar. Maklum, kondisi geografis Kota Madiun seperti cekungan. Air mudah menggenang. Pemerintah menyiapkan mesin penyedot dibeberapa titik. Namun, tentu itu tak bakal maksimal tanpa peran masyarakat. Salah satunya, dengan tidak membuang sampah sembarangan.

‘’Kebanyakan orang berfikir satu sampah kecil yang dibuang tidak akan berpengaruh banjir. Ini yang berbahaya karena sampah kecil ini tanpa disadari dapat menumpuk menjadi penyumbat dalam jangka beberapa waktu ke depan,’’ ujarnya.

Pelebaran saluran, kata dia, belum memungkinkan karena minimnya lahan. Pelebaran harus dimulai dari pembebasan lahan masyarakat. Pastinya, butuh anggaran besar. Penanganan sementara masih mengandalkan saluran yang ada dengan bantuan mesin penyedot. Walikota berharap, adanya peran aktif masyarakat.

‘’Bencana merupakan tanggung jawab bersama. Masyarakat harus turut menjaga. Paling tidak dari hal kecil seperti tata cara membuang sampah,’’ pungkasnya. (ws hendro,agi/diskominfo).

#100ThMadiun
#KotaKarismatikMadiun